YOGYAKARTA — Kesuksesan tidak lahir dari kenyamanan. Ia ditempa oleh keberanian membaca peluang, menghadapi kegagalan, melewati masa-masa sulit, dan tetap berdiri ketika keadaan berbalik arah.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku Memoar William Soeryadjaya, “Semangat Hidup dan Pasrah kepada Tuhan”, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa, 8 September 2026.
Menariknya, forum yang mengangkat perjalanan hidup salah satu tokoh penting bisnis Indonesia tersebut mendapat respons kuat dari generasi muda.
Antusiasme peserta bahkan membuat panitia harus menutup pendaftaran setelah kuota 450 kursi terpenuhi.
Sekjen Mubarok Institute, Herry Purnomo, mengatakan tingginya minat peserta menunjukkan bahwa kisah perjalanan seorang tokoh bisnis masih memiliki daya tarik kuat, terutama ketika dikaitkan dengan tantangan generasi muda hari ini.
“Acara seminar dan bedah buku ini cukup menggembirakan karena kursi terisi penuh. Bahkan kalau pendaftaran tidak ditutup, bisa membludak. Peserta diskusi tetap antusias hingga penutupan. Kemarin kita tutup di angka 450 kursi,” ujar Herry.
Menurut Herry, antusiasme tersebut menjadi sinyal bahwa generasi muda membutuhkan figur dan pengalaman nyata yang dapat menjadi rujukan dalam menghadapi ketidakpastian masa depan.
“William Soeryadjaya tidak hanya meninggalkan perusahaan besar, tetapi juga meninggalkan pelajaran tentang bagaimana menghadapi kehidupan, membangun usaha, dan bangkit ketika mengalami kesulitan,” katanya.
William Soeryadjaya dan Mentalitas Membangun
Seminar dibuka Noorhaidi Hasan, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menekankan pentingnya perguruan tinggi menjadi pusat pengetahuan, riset, inovasi, sekaligus tempat bertemunya gagasan dengan persoalan nyata masyarakat.
Noorhaidi menyebut UIN Sunan Kalijaga terus memperkuat posisi sebagai universitas yang unggul dan berdampak global. Pengembangan riset, karya inovasi, HAKI, dan paten menjadi bagian penting dari pilar pengembangan kampus.
Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, menurut Noorhaidi, menghadirkan sosok William Soeryadjaya menjadi relevan. William bukan sekadar pengusaha, melainkan salah satu figur yang ikut membentuk perjalanan industri otomotif Indonesia melalui Astra.
“William Soeryadjaya adalah figur sentral dalam sejarah bisnis Indonesia. Ia merupakan tokoh yang memberikan kontribusi besar dalam membangun industri otomotif nasional,” ujar Noorhaidi.
Jatuh Bangun Sang Pengusaha
Edwin Soeryadjaya, putra kedua William Soeryadjaya, membawa peserta masuk ke sisi personal perjalanan sang ayah.
Ia mengisahkan bagaimana William mengalami berbagai fase jatuh bangun dalam membangun bisnis. Bagi Edwin, kesuksesan keluarga bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah.
Ia juga mengenang sosok ibunya sebagai perempuan yang tidak mengenal kata menyerah ketika keluarga menghadapi masa-masa sulit.
“Yang saya banggakan adalah bagaimana ibu saya tidak pernah menyerah ketika menghadapi masa-masa sulit,” kata Edwin.
Edwin juga menyampaikan kegelisahannya terhadap semakin kaburnya identitas Kijang sebagai salah satu ikon otomotif Indonesia.
Menurutnya, Kijang memiliki sejarah panjang dan kedekatan emosional dengan perjalanan industri otomotif nasional. Ia menyayangkan ketika nama tersebut semakin tersisih oleh penggunaan nama seperti Innova dan Zenix.
Jangan Jadi Generasi Penikmat
Sementara itu, Fadhil As Mubarok, CEO Mubarok Institute, menantang mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi generasi yang menikmati hasil pembangunan.
Ia mengajak anak muda memiliki keberanian membaca peluang, memahami tantangan, membangun jejaring yang sehat, dan memilih lingkungan pergaulan yang mendukung pertumbuhan.
“Mahasiswa harus pandai membaca peluang, kesempatan, dan tantangan. Jangan hanya menunggu peluang datang. Peluang harus dibaca, dipahami, kemudian diubah menjadi sesuatu yang produktif,” ujar Fadhil.
Menurut Fadhil, perjalanan William Soeryadjaya menunjukkan bahwa membangun sesuatu membutuhkan keberanian dan ketekunan.
“Pak William sudah memberikan contoh bagaimana seseorang berjuang mengembangkan bisnis otomotif nasional. Itu bukan perjalanan sehari dua hari. Ada proses, ada risiko, ada kegagalan, dan ada keberanian untuk bangkit,” katanya.
Fadhil bahkan membagi karakter perjalanan antargenerasi ke dalam empat kategori: generasi pengobatan, generasi pembangun, generasi penikmat, dan generasi amburadul.
“Pertanyaannya sederhana: kita mau menjadi generasi yang mana? Menjadi generasi pembangun yang meninggalkan warisan, atau generasi penikmat yang hanya menikmati warisan orang lain?” tegasnya.
Bukan Sekadar Bedah Buku
Seminar nasional dan bedah buku ini menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, yakni Noorhaidi Hasan, Cris Kuntadi, KH Abdul Hakim M, Fadhil As Mubarok, Herry Purnomo, Edwin Soeryadjaya, dan Sandiaga Shalahuddin Uno.
Forum tersebut tidak sekadar membedah sebuah buku memoar. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk membaca kembali etos kerja, keberanian berusaha, ketangguhan menghadapi krisis, serta nilai spiritual yang melekat dalam perjalanan hidup William Soeryadjaya.
Di tengah budaya instan yang membuat banyak orang ingin memperoleh hasil tanpa melewati proses, kisah William justru menawarkan pesan yang berlawanan: kesuksesan harus diperjuangkan, kegagalan harus dihadapi, peluang harus dibaca, dan hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Tuhan.
Dan ketika 450 kursi penuh serta peserta bertahan hingga acara ditutup, satu hal menjadi jelas: generasi muda ternyata masih mencari kisah tentang perjuangan—bukan sekadar kisah tentang kesuksesan. (*)






