ReportTimeNews, Bengkulu – Pemerintah Provinsi Bengkulu mulai memperketat kewaspadaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau. Pemerintah menyiapkan pembentukan “Tim Jaga Api” yang akan ditugaskan melakukan patroli dan pengawasan di wilayah rawan munculnya titik api.
Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, mengatakan langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini meskipun Bengkulu saat ini belum menjadi salah satu daerah yang mendapat sorotan utama akibat tingginya kejadian karhutla.
“Ini dibentuk Tim Jaga Api yang terus dilakukan patroli melalui sawah-sawah perusahaan, mobil tangki air. Ini jangan dianggap gampang, meski Bengkulu tidak termasuk sorotan dalam musibah kebakaran hutan dan lahan,” kata Mian.
Pernyataan tersebut disampaikan Mian dalam Rapat Koordinasi Pencegahan, Mitigasi, dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Bengkulu, di Aula Merah Putih Kantor Gubernur Bengkulu, Selasa (1/9/2026).
Menurut Mian, keberadaan Tim Jaga Api diharapkan dapat memperkuat pengawasan di lapangan, terutama pada kawasan hutan dan lahan yang memiliki potensi terbakar. Patroli juga menjadi langkah antisipasi agar potensi titik api dapat diketahui sedini mungkin dan segera ditangani.
Kewaspadaan tersebut dinilai penting mengingat musim kemarau masih berlangsung. Berdasarkan informasi BMKG Bengkulu, musim penghujan diperkirakan baru mulai memasuki wilayah Bengkulu pada akhir Oktober.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meminta seluruh pihak tidak lengah. Pencegahan karhutla dinilai tidak cukup hanya mengandalkan satu instansi, tetapi membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, aparat, perusahaan dan masyarakat.
Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan RI, Prof. Dr. Haruni Krisnawati, menekankan tiga hal yang menjadi kunci dalam mencegah dan mengendalikan karhutla, yakni koordinasi, kolaborasi dan kepemimpinan yang kuat.
“Ada tiga hal yang harus dilakukan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, yaitu koordinasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang kuat dalam mengendalikan kebakaran hutan yang mengedepankan pencegahan,” kata Haruni.
Ia menilai pendekatan pencegahan harus menjadi prioritas sebelum kebakaran meluas. Karena itu, koordinasi antarlembaga dan kesiapan di lapangan menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi kemarau.
Sementara itu, Kepala BMKG Bengkulu, Luhur Tri Uji Prayitno, mengatakan pihaknya telah mendapat instruksi dari BMKG pusat untuk memperkuat koordinasi dengan BPBD serta sejumlah instansi terkait dalam menghadapi potensi El Niño selama musim kemarau.
“Kami mendapat instruksi dari BMKG pusat dan kami sudah gencar turun, pertama kali ke BPBD, BPDAS, forum air, terkait adanya potensi El Niño di musim kemarau ini,” ujar Luhur.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Kapolda Bengkulu Irjen Pol Yudhi Sulistianto Wahid, Wakil Wali Kota Bengkulu Ronny PL Tobing, jajaran Forkopimda, serta perwakilan perusahaan yang berkaitan dengan pencegahan dan penanganan karhutla.
Melalui penguatan patroli, koordinasi dan kesiapsiagaan, Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga kawasan hutan, lahan pertanian dan lingkungan masyarakat dari ancaman kebakaran selama musim kemarau.






