ReportTimeNews, Bengkulu – Pemerintah Provinsi Bengkulu memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan akibat musim kemarau. Langkah ini dilakukan menyusul jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Bengkulu yang mencapai 15.961 kasus selama Januari hingga September 2026.
Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, mengimbau seluruh pelaku usaha, terutama di sektor perkebunan dan pertambangan, serta masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Ia juga meminta puskesmas dan posyandu meningkatkan pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi dampak cuaca panas dan potensi paparan asap.
Mian mengatakan, Pemprov Bengkulu telah menerbitkan surat edaran pencegahan karhutla kepada pelaku usaha sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Niño.
“Begitu ada ancaman El Niño dan musim kemarau panjang, Pemerintah Provinsi Bengkulu telah mengantisipasinya dengan menerbitkan edaran pencegahan kebakaran kepada seluruh pelaku usaha, baik sektor perkebunan, pertambangan, maupun sektor lain yang berpotensi mengalami kebakaran,” ujar Mian, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, upaya pencegahan dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dengan melibatkan unsur kehutanan, TNI, Polri, serta pemerintah kabupaten dan kota. Pengawasan kawasan rawan kebakaran dan sosialisasi kepada masyarakat juga terus didorong untuk mencegah munculnya titik panas baru.
Mian menyebutkan, kondisi titik panas di Bengkulu sejauh ini relatif terkendali. Namun, pemerintah tidak ingin kondisi tersebut membuat masyarakat dan pelaku usaha lengah terhadap potensi kebakaran.
“Alhamdulillah, titik panas di Provinsi Bengkulu bisa kita eliminasi dan jumlahnya relatif terkendali. Ini bukan berarti kita diam, tetapi upaya penyampaian imbauan kepada pelaku usaha terus dilakukan,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah desa mengingatkan masyarakat, khususnya petani, agar menerapkan prinsip zero burning atau tidak menggunakan api untuk membuka maupun mengelola lahan.
Selain mencegah karhutla, Pemprov Bengkulu memberi perhatian terhadap dampak musim kemarau bagi kesehatan masyarakat. Mian meminta Dinas Kesehatan mengoptimalkan pelayanan melalui puskesmas dan posyandu, terutama untuk mendukung deteksi dini, edukasi, serta penanganan warga yang mengalami gejala ISPA.
“Dinas Kesehatan terus melakukan peningkatan layanan. Kita berharap kasus ISPA di Provinsi Bengkulu dapat dikendalikan dengan baik,” ujar Mian.
Ia menambahkan, pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Upaya tersebut tidak hanya untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga melindungi kesehatan warga serta mencegah kerugian sosial dan ekonomi akibat kebakaran.
Pemprov Bengkulu berharap pengawasan karhutla dan peningkatan layanan kesehatan berjalan beriringan selama musim kemarau, sehingga risiko kebakaran maupun dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.






