ReportTimeNews, Bengkulu – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui implementasi Aksi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan inflasi, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang utama inflasi pada Mei 2026.
Penguatan strategi tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi High Level Meeting TPID Provinsi Bengkulu yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Selasa (9/6). Rapat dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni, Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal, jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu, serta sejumlah instansi terkait dan pemangku kepentingan lainnya.
Sekda Bengkulu Herwan Antoni menegaskan bahwa kenaikan harga pangan harus menjadi perhatian bersama karena berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Menurutnya, seluruh pihak perlu memperkuat sinergi dan mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga serta ketersediaan pasokan pangan.
“Kenaikan harga pangan harus disikapi dengan langkah-langkah strategis dan terukur. Melalui Aksi 4K, kita memastikan keterjangkauan harga bagi masyarakat, menjaga ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif kepada publik,” ujar Herwan.
Berdasarkan data terkini, inflasi Bengkulu secara tahunan (year on year/yoy) tercatat sebesar 3,01 persen. Sementara itu, empat daerah menjadi fokus pemantauan perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH), yakni Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Tengah, dan Bengkulu Selatan.
Pemantauan dilakukan terhadap 20 komoditas pangan strategis yang berpengaruh terhadap inflasi daerah, di antaranya cabai merah, cabai rawit, bawang merah, minyak goreng, serta sejumlah komoditas kebutuhan pokok lainnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,85 persen secara bulanan (month to month/mtm) dengan kontribusi terhadap inflasi mencapai 0,61 persen.
Menurut Wahyu, cabai merah menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,43 persen, disusul minyak goreng sebesar 0,06 persen. Sementara itu, daging ayam ras justru menjadi komoditas penahan inflasi dengan andil minus 0,11 persen.
“Kenaikan harga cabai merah dipengaruhi berkurangnya pasokan akibat tingginya curah hujan di sentra produksi hortikultura sehingga berdampak pada penurunan kualitas dan volume panen,” kata Wahyu.
Selain faktor cuaca, kenaikan harga minyak goreng juga dipengaruhi meningkatnya harga crude palm oil (CPO) di pasar global serta naiknya biaya distribusi dan kemasan. Di sisi lain, harga daging ayam ras mengalami penurunan karena meningkatnya produksi dan pasokan dari luar daerah.
Untuk mengantisipasi kenaikan harga, TPID Bengkulu menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah sesuai petunjuk teknis Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), penguatan koordinasi lintas sektor, serta pemetaan komoditas penyumbang inflasi di masing-masing wilayah.
TPID juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, Bank Indonesia, Perum Bulog, distributor, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bengkulu Nelly Alesha menyampaikan bahwa masyarakat dapat memantau perkembangan harga komoditas pangan secara real time melalui aplikasi Ben Connect. Aplikasi tersebut diharapkan menjadi sarana informasi yang membantu masyarakat dalam mengakses data harga kebutuhan pokok secara cepat dan akurat.
Rapat ditutup dengan penandatanganan Berita Acara High Level Meeting TPID Provinsi Bengkulu sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, dan melindungi daya beli masyarakat Bengkulu.






