ReportTimeNews, Bengkulu – Beredarnya isu Bahan Bakar Minyak (BBM) oplosan atau blanding, Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) menilai secara langsung berdampak pada omset penjualan pada penyalur tingkat Pertashop.
Bahkan akibat kabar tersebut, dampak yang diberikan cukup siginifikan. Dimana penjualan di tingkat Pertashop di Provinsi Bengkulu mengalami penurunan yang cukup siginifikan.
Pernyataan itu diungkapkan Ketua Umum (Ketum) HPMPI Steven dalam keterangannya pada Jumat, (7/3/2025) malam.
Steven mengungkapkan, Pertashop hanya menjual BBM non subsidi jenis Pertamax saja. Namun dengan isu BBM oplosan, omset penjualan Pertashop mengalami penurunan 30 hingga 50 persen. Karena seiring kabar itu juga, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penyalur BBM non-subsidi menurun.
“Kabar BBM oplosan atau blending ini membuat masyarakat menjadi ragu, dan sulit percaya kepada lembaga penyalur yang sebenarnya hanya menjual produk BBM non-subsidi seperti Pertamax saja. Akibatnya, penjualan kami turun cukup drastis, dibandingkan sebelum adanya kabar BBM oplosan,” ujar Steven.
Steven menjelaskan, guna membangun kepercayaan masyarakat, pihaknya baru-baru ini mengunjungi Terminal BBM Pulau Baai. Karena dalam kunjungan itu bisa diketahui proses penyaluran produk Pertamax.
“Kita berani pastikan, Pertamax yang dijual di Pertashop telah melalui proses pengecekan ketat sesuai standar Pertamina,” tegas Steven.
Selain itu juga lanjut Steven, dipastikan Pertamax yang dijual, merupakan BBM dengan RON 92 yang murni dan sesuai spesifikasi. Untuk itu kepada pemerintah daerah (Pemda) dan pihak terkait lainnya, dapat berperan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat, tentang kualitas BBM non-subsidi yang kami jual.
“Diharapkan kepercayaan masyarakat dapat pulih, dan penjualan Pertashop kembali normal. Mengingat kami selaku pengusaha Pertashop tentunya berharpa dukungan dari berbagai pihak, sehingga nantinya bisa dipastikan BBM yang disalurkan aman dan berkualitas bagi masyarakat,” demikian Steven.







