Foto : Komisi X DPR RI melalui anggota dari daerah pemilihan (dapil) Bengkulu, Hj. Dr. Dewi Coryati, menggelar Semarak Budaya Festival Dol 1 di Aula Kampus STIA Bengkulu.
ReportTimeNews, Bengkulu – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia bekerja sama dengan Komisi X DPR RI melalui anggota dari daerah pemilihan (dapil) Bengkulu, Hj. Dr. Dewi Coryati, menggelar Semarak Budaya Festival Dol 1 di Aula Kampus STIA Bengkulu.
Festival ini bertujuan melestarikan dan memperkenalkan alat musik tradisional khas Bengkulu, yakni dol, kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Kegiatan yang digelar pada Sabtu (21/6) ini diikuti oleh tujuh sanggar seni dol dari berbagai wilayah di Bengkulu.
Hadir sebagai narasumber utama, Bambang Permadi, serta tokoh penting lainnya seperti Anggota Komisi X DPR RI, Hj. Dr. Dewi Coryati, dan Ketua STIA Bengkulu, Gustini.
Dalam sambutannya, Dewi Coryati menyampaikan apresiasi kepada Kemendikbud atas terselenggaranya festival ini. Ia juga menekankan bahwa inisiatif pelestarian dol adalah bagian dari komitmennya untuk menjaga warisan budaya daerah.
“Dol adalah identitas kebudayaan asli Bengkulu. Alat musik ini bukan hanya unik, tetapi juga memiliki nilai ritual yang sakral. Kita perlu memahami esensinya agar kreativitas tidak menghilangkan identitas,” ujar Dewi.
Ia menjelaskan bahwa dol merupakan hasil asimilasi budaya asing dengan budaya lokal yang akhirnya berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Bengkulu.
Dewi menambahkan, alat musik dol ternyata hanya ada empat di dunia, salah satunya di Jepang, dan Indonesia — tepatnya di Bengkulu.
“Kita patut bangga. Musik dol adalah kebanggaan dunia yang berakar di tanah kita sendiri. Kini saatnya kita sebarkan ke seluruh provinsi Bengkulu dan integrasikan ke dunia pendidikan,” tambahnya.
Dewi juga menyoroti pentingnya edukasi tentang nilai-nilai ritual dalam penggunaan dol. Menurutnya, dol tidak bisa dimainkan sembarangan, apalagi jika asal bunyi tanpa memahami pola ketukan tradisional yang disebut mempadah.
“Kita tidak boleh asal-asalan dalam berkreativitas. Dol memiliki dasar ketukan yang harus dihormati karena berasal dari tradisi ritual,” tegasnya.
Ke depan, Dewi berharap semarak budaya seperti ini dapat terus dilanjutkan, tidak hanya berhenti pada satu festival. Ia juga mendorong agar sanggar-sanggar dol bisa hadir di seluruh wilayah Bengkulu dan menjadi bagian dari kurikulum budaya di sekolah-sekolah.
“Kita ingin anak cucu kita kelak tetap mengenal dan bangga terhadap budaya dol sebagai milik mereka. Jangan sampai dol hanya tinggal cerita,” tutup Dewi Coryati.
Lebih lanjut Semarak Budaya Festival Dol ini diharapkan menjadi batu loncatan penting untuk menjadikan dol bukan hanya sebagai warisan lokal, melainkan simbol budaya nasional yang mendunia.